Anda yang tinggal di wilayah Solo Raya tentu tidak asing dengan Gunung Kemukus.
Ya, Gunung Kemukus yang terletak di Sragen Jawa Tengah ini dikenal karena mitos ritual seks yang sempat menjadi pemberitaan internasional.
Untuk mencapai Gunung Kemukus, Anda bisa menggunakan bis, naik dari terminal Tirtonadi Solo, jurusan Solo-Purwodadi, lalu turun di Barong.
Dari situ, tinggal naik ojek menuju puncak bukit.
Dikutip dari Kompas.com, Gunung Kemukus sendiri merupakan kompleks makam Pangeran Samudro dan ibunya, Ontrowulan.
Kompleks ini tepat berada di puncak bukit setinggi 300 meter di atas permukaan laut.
Kawasan ini terdiri dari bangunan utama berbentuk rumah joglo dengan campuran dinding beton dan papan.
Ada tiga makam di dalamnya.
Sebuah makam besar yang ditutupi kain kelambu putih merupakan makam Pangeran Samudro dan ibunya.
Dua makam di sampingnya adalah dua abdi setia sang pangeran.
Sementara itu, di sebelah bangunan utama terdapat bangsal besar yang diperuntukkan bagi peziarah sekadar untuk istirahat.
Makam Pangeran Samudro diyakini memiliki tuah yang bisa mendatangkan berkah bagi mereka yang memohon dengan sungguh-sungguh.
Sebut saja ingin sukses berdagang, mudah jodoh, atau karier cepat menanjak.
Sayangnya, objek ini tercemar oleh mitos-mitos sesat.
Misalnya, niat seseorang akan terpenuhi asal dia harus berhubungan seks dengan laki-laki atau perempuan yang bukan suami atau istrinya.
Padahal, tidak ada dasar cukup kuat untuk membenarkan mitos ini.
Hasto, sang kuncen, juga tidak pernah tahu dari mana mitos itu berasal.
Karena itu, kini pada hitungan 150 anak tangga menuju makam, Dinas Pariwisata Kabupaten Sragen memasang pengumuman melarang perbuatan asusila.
Namun, begitulah seks, selalu mempunyai daya magnetis yang kuat.
Apalagi banyak orang yang percaya akan kebenaran mitos di atas.
Setelah beberapa waktu lalu menginstruksikan penutupan ritel seks di Gunung Kemukus, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kembali mengingatkan agar Gunung Kemukus kembali ke fungsi awalnya yakni sebagai wisata ziarah.
Ganjar mengungga fotonya saat berziarah ke Gunung Kemukus.
Hal itu diungkapkan Ganjar di akun Instagramnya, Kamis (8/7/2017).
"Gunung kemukus harus kembali ke marwahnya sebagai kawasan wisata religi. Akan sangat baik nantinya apabila di kawasan ini ada yang menyediakan tasbih, buku tahlil dan keperluan ziarah lainnya. Sehingga stigma negatif tentang gunung kemukus ini akan hilang," tulisnya.
Dilansir dari Kompas.com, Pangeran Samudro adalah salah seorang putra raja Majapahit terakhir dari ibu selir Ontrowulan.
Ada juga yang mengatakan bahwa Ontrowulan adalah ibu tiri pangeran.
Kemudian keduanya jatuh cinta, bak legenda Sangkuriang.
Ketika Majapahit runtuh, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri seperti saudara-saudaranya.
Ia lalu diboyong ke Demak dan belajar agama Islam pada Sunan Kalijaga.
Setelah dirasa cukup ilmunya, Pangeran Samudro diutus untuk berguru kepada Kiai Ageng Gugur di daerah Gunung Lawu.
Di sini ia juga menyelesaikan pendidikannya dengan baik.
Tiba saatnya ia pulang kembali ke Demak.
Dalam perjalanan pulang, ia didampingi dua orang abdinya dan selalu menyebarkan agama Islam di setiap tempat yang disinggahinya.
Dalam perjalanan pulang itulah Pangeran Samudro jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Jasadnya di makamkan di sebuah bukit.
Di atas bukit itulah selalu tampak kabut hitam bagai asap (kukus) pada setiap musim kemarau maupun penghujan.
Karena itulah bukit itu disebut Gunung Kemukus.
Nama itu bertahan hinga kini.
Mendengar kabar kematian putranya, Ontrowulan memutuskan untuk mengunjunginya.
Di sana Ontrowulan merebahkan diri di pusara makam.
Dalam dialog secara gaib, pangeran berpesan pada ibunya.
Kalau ingin bertemu dengannya, Ontrowulan terlebih dahulu harus menyucikan diri di sebuah sendang.
Sendang itu kini terkenal dengan nama Sendang Ontrowulan.
Usai menyucikan diri, tubuh Ontrowulan menghilang.
Sementara dari geraian rambutnya, jatuhlah bunga-bunga penghias rambut.
Dari bunga itulah tumbuh pohon nagasari hingga kini.(*)
